Salah satu tugas dosen dari Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Bentuk pengabdian ini diharapkan bagaimana ilmu dosen bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Titin Agustin Nengsih, S.Si., M.Si., Ph.D adalah salah satu dosen Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi diundang sebagai narasumber di Palembang. Dalam acara Diskusi Kelompok Terpumpun sebagai salah satu bentuk pengabdian dari hasil penelitian dengan memadukan penelitian kuantitatif dan kegiatan pengabdian.

Kegiatan Diskusi Kelompok Terpumpun dengan tema MEMBACA SRIWIJAYA DARI PERSEPEKTIF LAIN. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dr. Wahyu Rizky Andhifani yang menggunakan dana Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Sumatera Selatan tahun 2024. Manfaat kegiatan ini yaitu mengenalkan kembali era kejayaan Palembang sebagai ibukota awal Kedatuan Sriwijaya. Yang dahulu pernah berkuasa lewat sebuah diskusi terkait Kedatuan Sriwijaya dalam perspektif lain. Selain itu kegiatan ini bisa menumbuhkan rasa ingin tahu, dan memperkaya khazanah kesejarahan khususnya terkait dengan Kedatuan Sriwijaya.
Diskusi ini di laksanakan pada tanggal 27 Oktober 2024, bertempat di Angkasa Driving Range, Jalan Adisucipto, Sukodadi, Kecamatan Sukarami, Kota Palembang. Titin Agustin Nengsih, S.Si., M.Si., Ph.D memberikan materi yang berjudul Prasasti Peninggalan Sriwijaya dari Sisi Statistika. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa narasumber yaitu instansi pemerintah (BPK VI Sumsel, BRIN, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan. Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan), Akademisi (UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Universitas Sriwijaya, UIN Raden Fatah Palembang, Universitas Kader Bangsa). Yayasan Cahaya Maitreya, Pramuwisata Komunitas (Sahabat Cagar Budaya, PESE) dan Budayawan.
Diskusi kelompok terpumpun ini mengungkapkan pandangan multidisipliner mengenai Kedatuan Sriwijaya melalui perspektif hukum, statistik, bahasa, budaya, pendidikan, dan pemerintahan. Sriwijaya merupakan sebuah kedatuan yang dipimpin oleh seorang datu. Dan pernah menjadi sebuah kerajaan yang besar di era abad VII Masehi. Kebesaran Kedatuan Sriwijaya tersebut didukung oleh data primer yaitu berupa prasasti-prasasti yang pernah dikeluarkannya. Dari sisi hukum, diskusi menyoroti struktur pemerintahan dan cita-cita negara kesejahteraan yang tercermin dalam prasasti. Sedangkan statistika berperan mendukung penggalian bukti arkeologis melalui metode kuantitatif.
Perspektif bahasa mengungkapkan bahwa Sriwijaya merupakan pusat literasi yang menjadi cikal bakal bahasa Melayu kuno. Nilai-nilai pembaharuan yang tercermin dalam prasasti memperlihatkan penghormatan terhadap alam dan keluhuran kehidupan. Temuan ini memperkaya pemahaman tentang Sriwijaya sebagai peradaban kompleks yang berkontribusi penting bagi budaya dan sejarah, sekaligus menggarisbawahi pentingnya pelestarian warisan budaya ini.