JAMBI – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi melalui Pusat Kajian (Korpus) Melayu mulai melakukan langkah strategis dalam pelestarian budaya lokal.
Pada Jumat (13/2/2026), tim Korpus Melayu yang dipimpin oleh Dr. Tabroni mendatangi Desa Rantau Puri, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, untuk menjajaki kerja sama lintas sektor di bidang kemelayuan.

Pertemuan tersebut disambut langsung oleh Kepala Desa Rantau Puri di kediamannya. Fokus utama diskusi ini adalah membangun kesepahaman terkait program penguatan identitas Melayu di tengah masyarakat desa.
Ketua Korpus Melayu UIN Jambi, Dr. Tabroni, menyampaikan bahwa penjajakan ini merupakan bagian dari komitmen akademis untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang mulai luntur.
Salah satu poin utama yang dibahas adalah integrasi program Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) tematik. Nantinya, mahasiswa UIN Jambi yang diterjunkan ke Desa Rantau Puri akan memiliki fokus khusus pada pendataan, pengembangan, dan promosi budaya Melayu setempat.
“Kami melihat potensi besar di Desa Rantau Puri sebagai salah satu desa yang masih memegang teguh akar budaya. Melalui kerja sama ini, kami ingin memastikan bahwa nilai-nilai kemelayuan tidak hanya menjadi sejarah, tetapi tetap hidup dalam aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat,” ujar Dr. Tabroni saat ditemui di lokasi, Jumat.
Sinergi Akademisi dan Desa
Gayung bersambut, Kepala Desa Rantau Puri menyatakan dukungannya terhadap rencana kolaborasi ini. Menurutnya, kehadiran akademisi sangat dibutuhkan untuk memberikan pandangan ilmiah sekaligus dokumentasi yang lebih tertata terhadap aset budaya desa.

“Kami sangat terbuka dengan rencana ini. Dengan adanya kerja sama bidang kemelayuan, kami berharap Desa Rantau Puri bisa menjadi proyek percontohan bagi desa lain dalam menjaga warisan leluhur, khususnya bagi generasi muda,” tutur Kepala Desa Rantau Puri.
Selain bidang Kukerta, penjajakan ini juga membuka peluang penelitian bersama terkait tradisi lisan, naskah kuno, serta adat istiadat yang masih dipraktikkan oleh warga Rantau Puri.
Hasil dari kerja sama ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi kebijakan bagi pengembangan desa wisata berbasis budaya di masa depan.





